<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hardiani's Weblog</title>
	<atom:link href="http://hardiani.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardiani.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Nov 2011 17:09:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hardiani.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Hardiani's Weblog</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hardiani.wordpress.com/osd.xml" title="Hardiani&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hardiani.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pelatihan Data Dasar Kependudukan</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2010/07/09/pelatihan-data-dasar-kependudukan/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2010/07/09/pelatihan-data-dasar-kependudukan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 18:29:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 29 Juni, telah dilakukan kegiatan Pelatihan Data Dasar Kependudukan untuk mahasiswa Konsentrasi Ekonomi Sumberdaya Manusia dan Kependudukan (SMK). Pelatihan dilaksanakan di Ruang Lab. Matriks dan di Pusdatin IESP Fakultas Ekonomi Universitas Jambi. Disini ditampilkan foto-foto ketika pelatihan berlangsung.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=130&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tanggal 29 Juni, telah dilakukan kegiatan Pelatihan Data Dasar Kependudukan untuk mahasiswa Konsentrasi Ekonomi Sumberdaya Manusia dan Kependudukan (SMK). Pelatihan dilaksanakan di Ruang Lab. Matriks dan di Pusdatin IESP Fakultas Ekonomi Universitas Jambi. Disini ditampilkan foto-foto ketika pelatihan berlangsung.</p>
<p><a href="http://hardiani.files.wordpress.com/2010/07/29062010288.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-131" title="29062010288" src="http://hardiani.files.wordpress.com/2010/07/29062010288.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://hardiani.files.wordpress.com/2010/07/29062010282.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-132" title="29062010282" src="http://hardiani.files.wordpress.com/2010/07/29062010282.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<p><a href="http://hardiani.files.wordpress.com/2010/07/29062010281.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-134" title="29062010281" src="http://hardiani.files.wordpress.com/2010/07/29062010281.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=130&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2010/07/09/pelatihan-data-dasar-kependudukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hardiani.files.wordpress.com/2010/07/29062010288.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">29062010288</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hardiani.files.wordpress.com/2010/07/29062010282.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">29062010282</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hardiani.files.wordpress.com/2010/07/29062010281.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">29062010281</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pinjaman Tanpa Bunga</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2009/05/15/pinjaman-tanpa-bunga/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2009/05/15/pinjaman-tanpa-bunga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 May 2009 09:49:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[bank]]></category>
		<category><![CDATA[islam]]></category>
		<category><![CDATA[syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Pada bulan April 2009 yang lalu saya mengikuti kegiatan “Training of Trainer” mengenai Bank Syariah yang diselenggarakan oleh konsentrasi Ekonomi Islam di jurusan IESP Fak. Ekonomi UNJA. Ada satu topik yang dikemukakannya oleh salah satu pembicara yang bernama Pak Cecep. Beliau  membantah salah satu alasan bagi yang nembolehkan bunga bank yaitu “bunga sebagai upah menunggu”. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=114&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada bulan April 2009 yang lalu saya mengikuti kegiatan “Training of Trainer” mengenai Bank Syariah yang diselenggarakan oleh konsentrasi Ekonomi Islam di jurusan IESP Fak. Ekonomi UNJA.</p>
<p>Ada satu topik yang dikemukakannya oleh salah satu pembicara yang bernama Pak Cecep. Beliau  membantah salah satu alasan bagi yang nembolehkan bunga bank yaitu “bunga sebagai upah menunggu”. Menurut beliau jika kita meminjamkan uang berarti kita punya kelebihan uang, oleh karenanya kita tidak boleh meminta lebih dari uang yang kita pinjamkan. Saya yang mendengar penjelasan tersebut rasanya masuk akal juga. Kemudian saya ingat satu alasan lagi yang membolehkan bunga bank dan juga dibantah oleh Pak Cecep yaitu mengenai “nilai uang sekarang lebih besar dari pada nilai uang pada masa depan (time value of money)”. Beliau mengemukakan suatu rumus F = A(1+r)<sup>n </sup>yang menyatakan bahwa jika r = 0 maka berapa pun n nya maka jumlah nilainya akan sama.</p>
<p>Dalam hal ini saya masih meragukan. Karena kalau kita meminjamkan barang (emas) atau yang lainnya  dan lima tahun kemudian si peminjam mengembalikan berupa emas/ barang yang sama, rumus itu memang benar. Tapi bila yang kita pinjamkan berupa uang, maka lima tahun kemudian nilai uang akan turun. Sedang saya berfikir tentang hal di atas,  tiba-tiba saya teringat pada kejadian yang saya alami sekitar dua minggu yang lalu. Kejadiannya begini.</p>
<p>Hari itu adalah hari sabtu siang, dimana saya sedang kedatangan keponakan yang sekaligus juga merupakan mahasiswa bimbingan skripsi. Saat kami sedang membicarakan tentang perbaikan skripsinya,  tiba-tiba datang sepasang suami istri  dengan tergesa-gesa dengan tujuan ingin meminjam uang untuk berobat adiknya sebesar Rp. 900.000,-. Mereka berjanji akan mengembalikan pada hari Senin (2 hari setelah dipinjam). Karena rasa kasihan maka saya pinjamkan uang yang diperlukannya. Namun pada hari Senin seperti yang telah dijanjikannya mereka tidak datang untuk mengembalikan uang tersebut. Saya fikir mungkin mereka masih sibuk mengurus adiknya yang sedang sakit dan kalaupun terlambat tidak apa-apa. Namun pada hari Rabu mereka datang ke rumah mengembalikan uang yang dipinjamnya serta membawa oleh-oleh berupa sekotak martabak manis. Disinilah rasanya saya teringat kembali penjelasan pak Cecep itu ada benarnya juga. Yang pertama, bahwa kalau kita meminjamkan uang tidak perlu meminta uang lebih, karena Allah yang akan melebihkannya. Logikanya, dari kejadian yang saya alami ini. Saya meminjamkan uang Rp.900.000,-  dan 4 hari sesudahnya uang saya kembali ditambah 1 kotak martabak. Harga martabak diperkirakan Rp.9000, berarti dalam 4 hari saya mendapat untung sebesar 1% dan kalau 1 tahun berarti keuntungan yang diperoleh sebesar 90%. Emangnya bank mana yang mau membayarkan bunga sebesar itu ? Yaaa… hanya Bank Allah-lah.</p>
<p>Jadi, dari kejadian ini ternyata bahwa bila kita meminjamkan uang tanpa bunga, maka nilai uang kita tidak akan berkurang dan tidak tetap, tetapi nilainya akan bertambah dimasa yang akan datang. Itulah hebatnya ajaran Islam. Betul khaaan ?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=114&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2009/05/15/pinjaman-tanpa-bunga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teguran Allah</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2009/04/10/teguran-allah/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2009/04/10/teguran-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Apr 2009 14:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[mekah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang mengatakan bahwa kalau kita ke Mekah akan mengalami berbagai peristiwa yang sulit untuk dilupakan, baik itu yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Ini merupakan salah satu peristiwa yang tidak dapat saya lupakan. Ceritanya sebagai berikut: Peristiwa ini terjadi ketika saya sedang shalat di Masjidilharam. Saat Setelah tawaf, saya melaksanakan shalat sunat di depan Ka’bah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=110&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Banyak yang mengatakan bahwa kalau kita ke Mekah akan mengalami berbagai peristiwa yang sulit untuk dilupakan, baik itu yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Ini merupakan salah satu peristiwa yang tidak dapat saya lupakan. Ceritanya sebagai berikut: Peristiwa ini terjadi ketika saya sedang shalat di Masjidilharam. Saat Setelah tawaf, saya melaksanakan shalat sunat di depan Ka’bah. Setelah shalat sunat, saya langsung sujud untuk berdoa. Salah satu doa saya pada waktu itu adalah agar Allah mengampuni dosa kedua orang tua saya. Kemudian memintakan kesehatan kepada mereka karena mereka telah menjaga anak-anak dan harta yang saya tinggalkan di tanah air. Rupanya, saat saya berdoa, tiba-tiba kepala saya yang sedang sujud, tersenggol kaki orang yang sedang lewat. Ketika itu juga saya sadar dan istiqfar<span>  </span>untuk meminta ampun kepada Allah atas kesalahan kata-kata saya yang tak pantas saya ucapkan tersebut. Saya yakin, kalau kaki orang yang menyenggol kepala saya itu semacam teguran bagi saya dari Allah <span> </span>karena yang sebenarnya menjaga anak-anak dan harta saya itu hanyalah Allah, karena orang tua saya juga sebenarnya dijaga oleh Allah semata.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=110&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2009/04/10/teguran-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Persepsi Pekerja Thdp Ketimpangan Gender</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/15/persepsi-pekerja-thdp-ketimpangan-gender/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/15/persepsi-pekerja-thdp-ketimpangan-gender/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 22:22:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[tenaga kerja]]></category>
		<category><![CDATA[diskriminasi]]></category>
		<category><![CDATA[feminis]]></category>
		<category><![CDATA[industri]]></category>
		<category><![CDATA[neoklasik]]></category>
		<category><![CDATA[pekerja]]></category>
		<category><![CDATA[segmentasi]]></category>
		<category><![CDATA[seks]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[uji beda]]></category>
		<category><![CDATA[upah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Meningkatnya kesempatan pendidikan dan status perempuan telah ber-dampak pada peningkatan partisipasi perem¬puan dalam dunia kerja. Namun, hal ini ternyata diwarnai adanya ketimpangan gender, dalam bentuk segmentasi pasar tenaga kerja yang menempatkan laki-laki pada pekerjaan-pekerjaan utama, dan perempuan pada pekerjaan-pekerjaan sekunder. Teori neo-klasik menjelaskan, segmentasi pasar tenaga kerja terjadi sebagai akibat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=94&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">I. PENDAHULUAN<br />
1. Latar Belakang<br />
Meningkatnya kesempatan pendidikan dan status perempuan telah ber-dampak pada peningkatan partisipasi perem¬puan dalam dunia kerja. Namun, hal ini ternyata diwarnai adanya ketimpangan gender, dalam bentuk segmentasi pasar tenaga kerja yang menempatkan laki-laki pada pekerjaan-pekerjaan utama, dan perempuan pada pekerjaan-pekerjaan sekunder.<br />
Teori neo-klasik menjelaskan, segmentasi pasar tenaga kerja terjadi sebagai akibat perbedaan karak¬teristik individu (human capital) yang mempengaruhi produkti¬vitas, dimana human capital pekerja perempuan lebih rendah dari pekerja laki-laki. Rendahnya human capital (pendidikan, umur dan pengala¬man kerja) pekerja perempuan ini, secara umum telah dibuktikan dari hasil penelitian Hardiani (1997) pada salah satu perusahaan industri kayu di Jambi. Namun, setelah dilakukan pengontrolan dengan berbagai karak¬teristik yang mempengaruhi produktivitas, ketimpangan gender antara pekerja laki-laki dan perempuan tetap terlihat nyata. Hal ini berarti bahwa terjadinya segmentasi pasar tenaga kerja tidak dapat dijelaskan melalui teori neo-klasik.<span id="more-94"></span><br />
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dengan menggunakan pendekatan yang berbeda, yaitu teori feminis aliran liberal. Menurut teori ini, sistem sosial yang ada telah menempatkan perempuan pada kedudukan yang lebih rendah dari laki-laki. Proses sosialisasi yang cenderung mensosialisasikan perempuan dengan kegiatan-kegiatan domestik dan sifat-sifat kewanitaan, menyebabkan terjadinya proses identifikasi pekerjaan-pekerjaan publik yang sesuai dengan sifat perempuan (Collins, 1991).<br />
Menghapuskan ketimpangan gender tidak dapat dipisahkan dari upaya mendekonstruksi hubungan gender dalam masyarakat, melalui penyada¬ran baik kepada laki-laki maupun perempuan bahwa ketimpangan gender yang terjadi bukanlah merupakan suatu takdir/kenyataan yang tidak dapat dihilangkan. Dalam rangka dekonstruksi, khusus-nya dalam dunia kerja, diperlu¬kan informasi bentuk ketimpangan gender yang terjadi serta bagaimana konstruksi sosial mewarnai per¬sepsi pekerja terhadap ketimpangan gender.<br />
1.2. Tujuan Penelitian<br />
a. Menganalisis bentuk ketimpangan gender yang mencakup segregasi pekerjaan, peluang karir dan upah<br />
b. Menganalisis persepsi pekerja perempuan dan laki-laki terhadap bentuk-bentuk ketim-pangan gender yang terjadi.<br />
1.3. Manfaat Penelitian<br />
a. Dari sisi praktis, diharapkan bermanfaat bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan peningkatan persa¬maan kedudukan laki-laki dan perempuan serta kesejahteraan perempuan dalam dunia kerja.<br />
b. Dari sisi akademis, bermanfaat sebagai referensi bagi peneliti selanjutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">II. TINJAUAN PUSTAKA<br />
Terdapat tiga teori dasar dalam menjelaskan fenomena diferensiasi gender, yaitu teori neo-klasik, teori segmentasi pasar tenaga kerja dan teori feminis. Namun, penelitian ini menggunakan teori feminis aliran liberal.<br />
Pendekatan feminis liberal memandang subordinasi perempuan berakar pada kendala dan kebiasaan budaya yang meng¬hambat akses perempuan terhadap kesempatan berkompetisi secara adil dengan laki-laki (Saptari, 1997). Perempuan disosialisasikan pada kegiatan-kegiatan domestik dan sifat-sifat kewanitaan seperti sekretaris, resepsionis dan wait¬res. Perbedaan perempuan dan laki-laki yang telah disosialisasikan dalam keluarga kemudian terefleksi dalam kecenderungan pekerjaan menerima perintah bagi perempuan dan memberi perintah bagi pekerjaan laki-laki (Collins, 1991).<br />
Terkait dengan hal ini, terdapat dua pola segregasi dalam pekerjaan. Secara horizontal, perempuan tersegregasi pada pekerjaan berstatus rendah. Pekerjaan sektor modern lebih banyak ditempati oleh laki-laki, sedangkan sektor tradi¬sional oleh perem-puan. Menurut Papanek (1985) maskulinisasi dan feminisasi tenaga kerja ini terkait dengan lebih banyaknya pilihan pekerjaan yang dimiliki laki-laki dibandingkan perempuan. Secara vertical, terlihat dari monopoli laki-laki pada fungsi-fungsi dengan kewenangan yang luas, tingkat pengawasan yang tinggi serta kondisi kerja yang lebih baik (Humphrey, 1985).<br />
Terbentuknya perbedaan peranan antara perempuan dan laki- laki, dimana wilayah kekuasaan perempuan di dalam rumah dan laki-laki di luar rumah menurut (Berger dan Luckmann,1976) dapat dilihat dari dua perspektif: Pertama, konstruksi sosial sebagai proses awal pembedaan bidang domestik dan bidang publik, baik melalui proses eksternalisasi, objektivikasi maupun internalisasi. Kedua, Reproduksi Sosial, yaitu penguatan perbedaan bidang domestik dan publik, baik melalui simbol-simbol, reproduksi status biologis perem-puan, maupun reproduksi status kultural perempuan.<br />
Pekerjaan-pekerjaan marginal yang dikerjakan oleh perem¬puan dapat dilihat sebagai akibat dari proses identifikasi perempuan terhadap apa-apa yang sesuai dengan sifat kewanitaan seperti yang sudah dikonstruksikan secara sosial. Keterlibatan dalam kegiatan ekonomi yang marginal merupakan hasil dari suatu proses interaksi dan negoisasi di mana perempuan sendiri aktif di dalamnya. Dalam perspektif semacam ini kemudian ketimpangan gender tidak lain merupakan pilihan perempuan, bukan pemaksaan terhadap perempuan. Astuti (1997) mengemukakan banyak kaum perempuan yang menerima ketidakadilan jender tersebut dengan wajar karena merupakan suatu takdir.<br />
Akibat sikap yang menerima keadaan ini, struktur sosial yang timpang ini akhirnya tidak hanya dimitoskan laki-laki, tetapi perempuan. Hal tersebut juga berlaku pada perempuan yang memiliki akses kekuasaan yang lebih tinggi. Kelompok perempuan sering menem¬patkan perempuan sebagai subordinat.<br />
Mitos yang membentuk persepsi terhadap suatu objek dipengaruhi oleh faktor internal (dalam diri individu) maupun eksternal (lingkungan luar in¬dividu). Dalam konteks persepsi perempuan terhadap ketimpangan gender, sulit memi-sahkan pengaruh kedua faktor tersebut. Menurut Abdullah (1996) manusia memberi arti dan interpretasi terhadap perbedaan biologis laki-laki dan perempuan, yang kemudian menciptakan struktur sosial dengan pembagian hak dan kewajiban secara seksual. Ini kemudian menjadi realitas objektif. Berger (1991) dalam Abdullah (1996), mengemukakan setiap orang diperkenalkan pada makna budaya, belajar ikut serta dalam tugas-tugas yang sudah ditetapkan dan menerima peran dan identitas-identitas yang membentuk struktur sosialnya.</p>
<p style="text-align:justify;">III. METODE PENELITIAN<br />
Penelitian dilakukan pada salah satu perusahaan industri kayu di Propinsi Jambi . Populasi penelitian adalah seluruh pekerja pabrik di perusahaan tersebut. Jumlah sampel diambil sebanyak 50 pekerja, dengan cara proporsional random sampling berdasarkan jenis kelamin dan bidang pekerjaan. Untuk mendukung analisis, juga ditetapkan responden atasan langsung dari pekerja sampel.<br />
Data yang dikumpulkan yaitu data primer dan sekunder. Data sekunder dikumpulkan dari administrasi perusahaan, mencakup struktur organisasi, kondisi dan fasilitas kerja, bidang kerja termasuk sifat dan fungsinya.<br />
Data primer dikumpulkan melalui: Pertama, cara survai pada semua responden (laki-laki dan perem¬puan), yang dibantu dengan kuesioner. Kedua wawan¬cara mendalam melibatkan seorang pekerja laki-laki dan seorang pekerja perempuan untuk setiap bidang pekerjaan, serta atasan langsung pekerja.<br />
Untuk menganalisis bentuk ketimpangan gender pekerja dilakukan secara deskriptif dengan menyajikan tabel-tabel frekuensi. Bentuk ketimpangan gender pekerja dilihat dari tiga aspek yaitu: a) Segregasi pekerjaan yang dianalisis melalui sifat pekerjaan yang ditempati pekerja laki-laki dan perempuan. b) Peluang jabatan/karir, dianalisis dari jabatan- jabatan yang ditempati oleh pekerja laki-laki dan perempuan dan analisis riwayat mutasi kerja pekerja sampel, dan c) Diskriminasi upah/gaji, dianali¬sis menggunakan uji beda (uji z atau t dengan tingkat signifikansi 90 persen) antara upah pekerja laki-laki dan perempuan, dengan pengontrolan terhadap karakteristik individu.<br />
Untuk menganalisis persepsi pekerja dan atasan terhadap ketimpangan gender, dilakukan analisis deskriptif-kualitatif yang mengkaitkan jawaban responden dengan bentuk ketimpangan gender yang terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN<br />
4.1. Analisis Segregasi Pekerjaan<br />
Terdapat lima pola penempatan pekerja berdasarkan jenis kelamin di berbagai seksi kerja yang ada di perusahaan tersebut sebagai berikut.<br />
a. Bidang pekerjaan yang hanya dilakukan laki-laki adalah bagian log pond, log cutting, rotary, cold press, hot press dan bengkel. Pekerjaan-pekerjaan ini terutama membutuhkan kemampuan/keah¬lian penggunaan mesin serta tenaga yang kuat dalam pengatu¬ran input/bahan yang akan diolah oleh mesin.<br />
b. Bidang pekerjaan yang hanya dilakukan oleh perempuan, yaitu bidang M.K. Pada bidang ini jenis pekerjaan yang terutama adalah memberi lem potongan-potongan kayu. Sifat pekerjaan tidak membutuhkan tenaga yang kuat tetapi membutuhkan ketekunan dan ketelitian, sehingga semua bagian pembentuk produk terpoles perekat dengan baik.<br />
c. Bidang pekerjaan yang lebih banyak dilakukan laki-laki dari pada perempuan: 1). Packing dan gudang. Laki-laki bertugas mengepak dan mengangkat barang ke gudang penyimpanan. Sedangkan perempuan memberikan tanda pengenal produksi (stempel) produk dan 2). Inspeksi yaitu mengawasi kebersihan dan kenyamanan lingkungan kerja. Pekerjaan ini memerlukan keberanian dan wibawa pekerja, terutama dalam memberikan peringatan kepada pekerja yang mengabaikan kebersihan dan kenyamanan lingkungan kerja.<br />
d. Bidang pekerjaan yang lebih banyak dilakukan perempuan dari pada laki-laki adalah bidang compuser back, core compuser, pace back, glue sp, putty dan assembling. Sifat bidang pekerjaan ini terutama membutuhkan ketekunan, kete¬litian, kesabaran serta tidak memerlukan keahlian khusus.<br />
e. Bidang pekerjaan dengan jumlah pekerja hampir sama banyak antara perempuan dengan laki-laki adalah bidang dryer, sizer, sander dan quality control. Walaupun terdapat perimbangan jumlah pekerja laki-laki dan perempuan, namun demikian masih terdapat pembagian kerja yang tegas antara kedua kelompok pekerja tersebut. Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan mesin dan membutuhkan tenaga yang kuat, merupakan pekerjaan laki-laki, sedangkan untuk perempuan adalah sebaliknya.<br />
Kenyataan ini menunjukkan bahwa dalam penempatan kerja, terdapat segresi bidang pekerjaan. Pekerja laki-laki cenderung ditempatkan pada pekerjaan yang berhubungan dengan mesin dan yang membutuhkan tenaga fisik lebih kuat. Sebaliknya pekerja perem-puan cenderung untuk ditempatkan pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan ketekunan yang tinggi.<br />
4.2. Peluang Jabatan/Karir<br />
Terdapat beberapa tingkat jabatan di pabrik, mulai dari manajer produksi, asisten manajer, pimpinan shift, kepala seksi, asisten kepala seksi (askasi), dan kepala kerja. Semua jabatan tersebut ditempati oleh pekerja laki-laki, sedangkan posisi jabatan yang secara bersama-sama di isi oleh pekerja laki-laki dan perempuan adalah pada jabatan Askasi, dan kepala kerja.<br />
Jabatan askasi dan kepala kerja memang telah ditempati perempuan, namun proporsinya juga relatif kecil. Hanya 2 orang askasi perempuan dari 29 askasi, dan hanya 9 orang kepala kerja perempuan dari 229 kepala kerja.<br />
Struktur organisasi garis yang dianut oleh perusahaan mencerminkan semakin tinggi jabatan, tingkat kewe¬nangan dan pengawasan juga semakin luas, serta kondisi kerja (fasi-litas maupun tunjangan) semakin baik. Berdasarkan hal tersebut, terlihat bahwa kesempatan pekerja perempuan untuk mendapatkan jabatan dengan tingkat kewenangan, tingkat pengawasan dan kondisi kerja yang lebih baik adalah relatif lebih terbatas dibandingkan laki-laki.<br />
Dalam kebijakan terhadap tenaga kerjanya, perusahaan antara lain melakukan mutasi. Dari riwayat muta¬si, laki-laki lebih sering mendapatkannya dibandingkan perempuan, dimana proporsi untuk laki-laki 44 persen dan perempuan 35 persen.<br />
Mutasi terdiri dari mutasi pada bidang pekerjaan dengan kondisi kerja yang lebih baik, serta mutasi pada bidang pekerjaan dengan kondisi kerja yang tetap sama. Berdasarkan jenis kelamin, ternya¬ta di samping relatif kecilnya frekuensi mutasi pada perem¬puan, jenis mutasi yang dialaminya juga kurang menggembirakan. Hampir sepertiga (28,57 persen) responden perempuan menyatakan mendapatkan mutasi pada bidang pekerjaan dengan kondisi kerja yang sama. Sedang¬kan untuk laki-laki, proporsi tersebut hanya 9,09 persen.<br />
Keadaan ini menunjukkan bahwa perusahaan memberikan peluang yang lebih banyak bagi laki-laki terhadap jenis peker¬jaan dalam perusahaan, sehingga laki-laki lebih banyak yang dimutasikan daripada pekerja perempuan.</p>
<p style="text-align:justify;">4.3. Diskriminasi Upah/Gaji<br />
Secara rata-rata upah perem¬puan adalah 92,2 persen dari laki-laki. Per-bedaan ini relatif kecil dan tidak nyata secara statistik berdasarkan uji beda rata-rata. Oleh karenanya, pengujian berikut dilakukan untuk melihat apakah hal tersebut juga terjadi jika dikontrol dengan karakteristik pekerja.<br />
a. Diferensiasi Berdasarkan Umur<br />
Upah laki-laki maupun perempuan menunjukkan peningkatan bersamaan dengan peningkatan umur. Namun, peningkatan upah laki-laki lebih rendah dibandingkan peningka-tan upah perempuan. Hal ini menyebabkan, walaupun pada umur-umur muda (24 tahun ke bawah) rata-rata upah laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan, namun pada pada kelompok umur lebih tua (25 tahun ke atas), rata-rata upah perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Pada umur 24 tahun ke bawah, upah perempuan 90,26 persen dari laki-laki. Namun pada umur 25 tahun ke atas upah perempuan mencapai 105,60 persen dari upah laki-laki.<br />
Namun, dari uji beda rata-rata didapatkan pada kelompok umur 24 tahun ke bawah terdapat perbe¬daan yang signifikan secara statistik, sedangkan pada kelompok umur 25 tahun ke atas tidak signifikan. Ini berarti bahwa pada umur-umur muda laki-laki menerima upah lebih tinggi dibanding¬kan perempuan. Sebaliknya pada umur-umur tua tidak terdapat perbedaan yang nyata.<br />
b. Diferensiasi Berdasarkan Pendidikan<br />
Pada berbagai jenjang pendidikan upah laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Namun, perbedaan upah yang nyata secara statistik hanya terdapat pada jenjang pendidikan SLP ke bawah. Artinya, pada tingkat pendidikan SLTA ke atas upah pekerja laki-laki dan perempuan adalah relatif berimbang.<br />
c. Diferensiasi Berdasarkan Pengalaman Kerja<br />
Upah laki-laki maupun perempuan menunjukkan peningkatan bersamaan dengan peningkatan masa kerja, namun peningkatan upah laki-laki lebih rendah dibandingkan peningka¬tan upah perempuan. Ini menyebabkan, jika pada masa kerja kurang dari 1,5 tahun, rata-rata upah perempuan hanya 88,92 persen dari laki-laki, maka pada masa kerja 1,5 tahun atau lebih, upah perempuan mencapai 105,60 persen dibandingkan laki-laki.<br />
Namun melalui uji beda, ternyata yang berbeda secara signifikan hanyalah untuk pekerja dengan masa kerja kurang dari 1,5 tahun, sedangkan untuk yang bermasa kerja 1,5 tahun lebih tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.<br />
4.4. Persepsi Terhadap Ketimpangan Gender<br />
a. Persepsi terhadap Segregasi Pekerjaan<br />
Adanya segregasi pekerjaan yang membedakan pekerjaan-pekerjaan laki-laki dan perempuan memang diakui oleh lebih dari separuh (56 persen) pekerja. Namun, ketika dianalisis lebih mendalam, hanya kurang dari separuh (45 persen) perem¬puan yang mengakuinya. Sebaliknya untuk laki-laki, proporsi tersebut mencapai hampir dua-pertiga bagian (63,33 persen).<br />
Hal ini menunjukkan bahwa bagi perempuan, keadaan yang terjadi adalah keadaan yang harus diterima dan sesuai dengan kodrat yang membedakan laki-laki dan perempuan. 65 persen pekerja perempuan beranggapan penempatannya pada bidang kerja selama ini sesuai dengan keinginan dan kemampuannya.<br />
Pekerja laki-laki wajar ditempatkan pada bidang yang berhubungan dengan mesin, karena ketidakmampun perempuan men¬guasai teknologi. Proporsi perempuan yang menyetujui hal tersebut bahkan lebih besar dibandingkan laki-laki (perempuan mencapai 60 persen sedangkan laki-laki sebesar 50 persen).<br />
Berdasarkan anggapan tersebut, hampir semua pekerja perempuan (92,5 persen) mengemukakan pendidikan yang paling tepat untuk laki-laki adalah di bidang teknik/mesin dan perempuan di bidang ketrampilan terutama ketram¬pilan rumah tangga. Walaupun laki-laki juga menyatakan hal yang sama, namun kecenderungannya relatif lebih rendah yaitu hanya 78,33 persen.<br />
Pekerja laki-laki juga wajar ditempatkan pada pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan fisik yang kuat, hal ini disetujui oleh semua pekerja. Sebaliknya peker¬ja perempuan wajar ditempatkan pada pekerjaan yang membutuhkan ketelitian dan ketekunan, karena dari sisi ini perempuan lebih unggul. Hal tersebut disetujui oleh 73,33 persen laki-laki, dan 85 persen perempuan.<br />
b. Persepsi terhadap Peluang Jabatan/Karir<br />
Peluang jabatan pekerja perempuan relatif lebih terbatas dibandingkan laki-laki, namun hal tersebut hampir tidak dirasa¬kan pekerja. 95 persen pekerja laki-laki dan 83 persen pekerja perempuan tidak merasakan adanya fenomena tersebut. Kenyataan lain yang ditemukan, walaupun relatif besar proporsi perempuan yang mendapatkan mutasi tanpa perbaikan kondisi kerja dibandingkan laki-laki, namun demikian semua perempuan menyatakan puas atas mutasi kerja yang didapatkan¬nya. Pekerja perempuan juga berpendapat bahwa kurang pantas perempuan menjadi atasan jika sebagian besar bawahannya laki-laki. Hampir separuh (45 persen) pekerja perempuan menyata¬kan hal tersebut, sedangkan proporsi laki-laki hanya 16,67 persen.<br />
Penguatan kredibilitas atasan laki-laki ini tidak hanya didukung oleh pekerja laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Hal ini terlihat dari berimbangnya proporsi responden laki-laki dan perempuan yang menyenangi atasan laki-laki (83,33 persen untuk laki-laki, dan 85 persen untuk perempuan).<br />
c. Persepsi terhadap Diskriminasi Upah/Gaji<br />
Analisis terdahulu memperlihatkan secara umum tidak terdapat perbedaan upah antara pekerja laki-laki dan perem¬puan. Hal ini juga diakui hampir semua responden (82 persen).<br />
Namun demikian, hanya sekitar sepertiga (34 persen) pekerja yang menyatakan puas terhadap penghasilannya. Sebaliknya, sekitar dua pertiga lainnya (66 persen) kurang/tidak puas. Penyebab ketidakpuasan tersebut karena penghasilannya dirasakan tidak mencukupi kebutuhan hidup<br />
Proporsi laki-laki yang kurang/tidak puas lebih besar dibandingkan perempuan (laki-laki 73,33 persen, sedangkan perempuan 65 persen). Fenomena ini pada dasarnya berkaitan dengan persepsi pencari nafkah utama dalam keluarga. Semua pekerja (laki-laki maupun perempuan) menyatakan bahwa pencari nafkah utama keluarga seharusnya adalah bapak/suami dan penghasilan ibu/istri hanya sebagai penambah penda¬patan keluarga. Lebih separuh (53,33 persen) laki-laki menyatakannya. Bahkan hal tersebut lebih dikuatkan oleh perempuan dengan proporsi yang menyetujuinya mencapai 85 persen.<br />
5. Kesimpulan dan Saran<br />
5.1. Kesimpulan<br />
Penelitian ini menemukan ketimpangan gender yang terjadi mengambil bentuk pada: a). tersegregasinya bidang pekerjaan, yang menempatkan perempuan pada wilayah kerja yang lebih terbatas terutama yang hanya membutuhkan ketekunan dan ketelitian tinggi, dan b). peluang jabatan/karir perempuan yang relatif terbatas dan hanya pada posisi jabatan terendah.<br />
Penelitian ini tidak menemukan perbe¬daan yang nyata dari upah laki-laki dan perempuan. Namun, dari pengontrolan dengan karakteristik individu menunjukkan pada tingkat &#8220;human capital&#8221; yang rendah (umur muda, pendidikan dan masa kerja rendah), secara signifikan upah laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sebaliknya pada tingkat &#8220;human capi¬tal&#8221; yang lebih tinggi (umur lebih tua, pendidikan dan masa kerja tinggi), tidak terdapat perbedaan nyata upah laki-laki dan perempuan.<br />
Terdapatnya ketimpangan gender di dunia kerja telah meru¬gikan posisi perempuan, namun perempuan tetap bertahan dalam pasar kerja. Fenomena ini dapat dijelaskan dari persepsi perempuan itu sendiri. Pekerja perempuan tidak merasakan ketimpangan gender merugikan posisi mereka, karena mereka beranggapan bahwa memang adanya keterbatasan kemampuan untuk mencapai posisi yang lebih baik. Selain itu, orientasi keterlibatan mereka dalam dunia kerja lebih bersifat temporer (mengisi waktu), peningkatan status (dari tidak bekerja menjadi bekerja), serta penambah pendapatan keluarga ketika laki-laki dalam keluarga belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga.<br />
5.2. Saran<br />
Berbagai upaya dalam bentuk perundang-undangan/peraturan-peraturan maupun konvensi yang dibuat untuk menjamin hak-hak perempuan dalam dunia kerja, tidak akan berhasil jika tidak diikuti oleh perubahan dalam konstruksi sosial. Oleh karenanya harus diadakan dekonstruksi hubungan gender dan reorientasi pemahaman seksualitas, yang melibatkan semua pihak yang tercakup dalam proses kon¬struksi sosial. Dekonstruksi tersebut dapat dilakukan melalui jalur sosialisasi, penyuluhan, dan pendidikan mulai dari tingkat keluarga sampai pada tingkat masyarakat yang lebih luas.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Daftar Pustaka<br />
Abdullah,I,1996, &#8220;Seks,Gender dan Reproduksi Kekuasaan&#8221;, dalam Dwiyanto,A, dkk,(eds) Penduduk dan Pembangunan, Yogyakar¬ta,Aditya Media dan PPK-UGM</p>
<p style="text-align:justify;">Astuti,M,1997,&#8221;Jender dan Pembangunan&#8221;, disampaikan pada Penataran Metodologi Penelitian Kajian Wanita Berperspektif Jender. Hotel Sri Wedari Yogyakarta, 7-13 September 1997</p>
<p style="text-align:justify;">Berger,P. dan Luckmann,T,1976, The Social Construction of Reality, London: Penguin Press</p>
<p style="text-align:justify;">Collins,R. 1991. &#8220;Women and Men in The Class Structure&#8221;, dalam Blumberg,R.L (ed), dalam Gender, Family and Economy: The Triple Overlap, London: Sage Publications.</p>
<p style="text-align:justify;">Dexter, C.R., 1985. &#8220;Women and The Execise of Power in Organi¬sation: From Ascribed to Achieved Status&#8221; dalam Larwood, L et.al (eds), Women and Work: An Anual Review, Vol. 1 California: Sage Publication.</p>
<p style="text-align:justify;">Hardiani, 1997. Tingkat Upah dan Diferensiasi Gender Pekerja Pada Perusahaan Industri Kayu PT. PSUT di Propinsi Jambi. Thesis.</p>
<p style="text-align:justify;">Humphrey,J. 1985. &#8220;Gender, Pay and Skill: Manual Workers in Brazilian Industry&#8221; dalam Afshar, H (ed), Women, Work and Ideology in The Third World, New York: Tavistock Publica¬tions.</p>
<p style="text-align:justify;">Papanek, H. 1985. &#8220;Low-Income Countries&#8221; dalam Farley J., Women workers in Fifteen Countries: Essays in Honor of Alice Cook, Itacha: Cornel University.</p>
<p style="text-align:justify;">Saptari,R, 1997. “Studi Perempuan: Sebuah Pengantar”, dalam Saptari,R. dan Holzner (eds), Perempuan, Kerja dan Peru¬bahan Sosial.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hardiani.wordpress.com/94/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hardiani.wordpress.com/94/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=94&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/15/persepsi-pekerja-thdp-ketimpangan-gender/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sabar</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/15/sabar/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/15/sabar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 16:48:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Raudhoh]]></category>
		<category><![CDATA[Sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Sabar.. Kisah ini saya alami ketika saya sedang di Madinah, yakni setelah melakukan ibadah haji di Mekah. Pada suatu kali, saya bersama teman-teman dalam satu maktab ingin pergi ke Raudhoh untuk shalat sunnat dan berdoa. Raudhoh adalah tempat dekat makam Rasulullah. Tempat ini adalah salah satu tempat  yang diyakini jika kita berdoa, maka doa kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=83&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Sabar..</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kisah ini saya alami ketika saya sedang di Madinah, yakni setelah melakukan ibadah haji di Mekah. Pada suatu kali, saya bersama teman-teman dalam satu maktab ingin pergi ke Raudhoh untuk shalat sunnat dan berdoa. Raudhoh adalah tempat dekat makam Rasulullah. Tempat ini adalah salah satu tempat<span>  </span>yang diyakini jika kita berdoa, maka doa kita akan dikabulkan Allah. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kami pergi berempat, dan untuk sampai ke tempat tersebut boleh dikatakan memakan waktu cukup lama, karena pada dasarnya semua yang menunaikan ibadah haji ingin melaksanakan shalat sunnat dan berdoa disana. Oleh petugas yang ada, kami dibagi atas kelompok-kelompok berdasarkan warga negara asal dan kekuatan fisik. Kami masuk dalam kelompok negara-negara Asean yang postur tubuhnya relatif kecil/lemah. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Semula kami berempat berjejer antri menunggu giliran. Pintu masuknya ada beberapa tempat. Kami lihat pintu yang dibuka di sebelah kanan. Tapi teman saya yang bertiga tidak sabaran, mereka berusaha memotong barisan orang lain dan pindah kepintu lain yang diperkirakan duluan dibuka, sehingga saya ketinggalan di belakang dan terpisah dari mereka. Saya sengaja tidak mau memotong barisan orang lain karena saya fikir mereka duluan datang dan biarlah mereka duluan sampai ke tempat tujuan, toh saya juga akan sampai kesana. Karena banyak yang pindah ke barisan lain sehingga saya akhirnya berada di depan. Ternyata pintu yang duluan dibuka pada saat itu adalah pintu di antrian saya. Sehingga saya lebih dulu masuk ke Roudhoh dibandingkan teman-teman saya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:.5in;text-align:justify;margin:0;"><span lang="SV"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Menghadapi kenyataan itu, saya sampai menitikkan air mata karena saya teringat, bahwa orang sabar di sayang Allah, dan buah kesabaran itu sangat manis.</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hardiani.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hardiani.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=83&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/15/sabar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Telekungku</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/11/telekungku/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/11/telekungku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 16:21:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Sekali waktu, saya pergi jalan-jalan dengan teman-teman dan pulangnya saya beli telekung. Telekung itu saya pakai sendiri sampai hampir setengah tahun. Suatu hari ada yang minta telekung itu dan saya berikan karena saya tahu akan dipakai sendiri. Namun dua hari setelah telekung itu saya berikan, datang anak didik saya yang sudah tamat memberikan kenang-kenangan pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=77&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sekali waktu, saya pergi jalan-jalan dengan teman-teman dan pulangnya saya beli telekung. Telekung itu saya pakai sendiri sampai hampir setengah tahun. Suatu hari ada yang minta telekung itu dan saya berikan karena saya tahu akan dipakai sendiri. Namun dua hari setelah telekung itu saya berikan, datang anak didik saya yang sudah tamat memberikan kenang-kenangan pada saya sebagai rasa tanda terima kasihnya. Setelah saya buka ternyata isinya telekung yang baru. Subhanallah, saya menjadi sangat yakin bahwa apa saja<span>  </span>yang kita lakukan tidak akan pernah sia-sia dan akan mendapat balasan dari Allah.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hardiani.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hardiani.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=77&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/11/telekungku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semut Mekah</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/11/semut-mekah/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/11/semut-mekah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 15:52:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[mekah]]></category>
		<category><![CDATA[semut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun yang lalu, saya bersama suami menunaikan ibadah haji ke Mekah. Hampir sebulan disana, saya tidak pernah menemukan semut. Padahal di dalam maktab makanan yang manis-manis banyak, kadang-kadang gula untuk buat teh dan kopi sering terbuka. Sehingga timbul pertanyaan dalam fikiran saya, apakah disini (Mekkah)  tidak ada semut ?  Padahal yang saya ketahui, di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=70&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Beberapa tahun yang lalu, saya bersama suami menunaikan ibadah haji ke Mekah. Hampir sebulan disana, saya tidak pernah menemukan semut. Padahal di dalam maktab makanan yang manis-manis banyak, kadang-kadang gula untuk buat teh dan kopi sering terbuka. Sehingga timbul pertanyaan dalam fikiran saya, apakah disini (Mekkah)<span>  </span>tidak ada semut ?<span>  </span>Padahal yang saya ketahui, di dalam Alqur’an ada diceritakan tentang semut. Namun tidak lama setelah pertanyaan dalam fikiran muncul, pertanyaan saya di jawab oleh Allah. Yakni ketika saya<span>  </span>ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tiba-tiba disana terdapat banyak semut berkelompok. Jadi saya semakin yakin, bahwa apapun yang kita rasakan dan fikirkan, Allah pasti tahu. Oleh karenanya janganlah ada fikiran jahat dalam hati kita, apalagi perbuatan jahat, karena Allah akan tau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hardiani.wordpress.com/70/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hardiani.wordpress.com/70/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=70&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/11/semut-mekah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>powerPoint Ekonomi Kependudukan</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/06/powerpoint-ekonomi-kependudukan/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/06/powerpoint-ekonomi-kependudukan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Sep 2008 23:27:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan ajar]]></category>
		<category><![CDATA[fertilitas]]></category>
		<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[lansia]]></category>
		<category><![CDATA[mobilitas]]></category>
		<category><![CDATA[morbiditas]]></category>
		<category><![CDATA[mortalitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[kepada mahasiswa atau saudara yang ingin mengetahui tentang pentingnya teori dan masalah-masalah kependudukan terkini seperti pertumbuhan penduduk, fertilitas, mortalitas, morbiditas, mobilitas, kualitas penduduk, kualitas penduduk, pembangunan berwawasan kependudukan, ideologi gender dan penduduk lansia, silakan untuk mengklik disini<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=59&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kepada mahasiswa atau saudara yang ingin mengetahui tentang pentingnya teori dan masalah-masalah kependudukan terkini seperti pertumbuhan penduduk, fertilitas, mortalitas, morbiditas, mobilitas, kualitas penduduk, kualitas penduduk, pembangunan berwawasan kependudukan, ideologi gender dan penduduk lansia, silakan untuk mengklik <a href="http://hardiani.files.wordpress.com/2008/09/point-epn.ppt" target="_blank">disini</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hardiani.wordpress.com/59/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hardiani.wordpress.com/59/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=59&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2008/09/06/powerpoint-ekonomi-kependudukan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diferensiasi Upah Berdasarkan Gender</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2008/08/17/diferensiasi-upah/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2008/08/17/diferensiasi-upah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 05:19:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[gender]]></category>
		<category><![CDATA[diferensiasi upah]]></category>
		<category><![CDATA[pendapatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa terdapat perbedaan upah yang besar antara pekerja laki-laki dan perempuan, baik di negara maju maupun negara sedang berkembang. Perbedaan tersebut juga terlihat bila ditin­jau pada masing-masing jenis/lapangan pekerjaan. Di Amerika Serikat pada tahun 1984, rata-rata upah pekerja perempuan adalah 63  persen dari pekerja laki-laki (Ehrenberg dan Smith,1988 ). Walaupun lima tahun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=36&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa terdapat perbedaan upah yang besar antara pekerja laki-laki dan perempuan, baik di negara maju maupun negara sedang berkembang. Perbedaan tersebut juga terlihat bila ditin­jau pada masing-masing jenis/lapangan pekerjaan. Di Amerika Serikat pada tahun 1984, rata-rata upah<span id="more-36"></span> pekerja perempuan adalah 63<span>  </span>persen dari pekerja laki-laki (Ehrenberg dan Smith,1988 ). Walaupun lima tahun kemudian (1989) rata-rata pendapatan pekerja perempuan telah meningkat pesat, namun rata-rata pendapatannya masih 72<span>  </span>persen dari pendapatan laki-laki. Namun demikian terda­pat pola yang menarik dari perbedaan upah ini jika dikontrol dengan umur. Ditemukan bahwa perbedaan upah ini akan semakin besar dengan semakin tuanya umur. Pada pekerja usia muda (16-24 tahun), median upah perempuan adalah 90<span>  </span>persen terhadap upah laki-laki, sedangkan pada pekerja usia lebih tua perbedaan upah tersebut menjadi 77 persen.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Gindling,T.H.(1993), mencoba menguji perubahan upah dan perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perem­puan di Costa Rica selama krisis ekonomi awal tahun 1980 an. Temuannya menunjukan bahwa krisis ekonomi ter­nyata memiliki pengaruh yang relatif lebih besar terha­dap upah perempuan dibandingkan laki-laki. Pada awal resesi (1978 )  ratio upah laki-laki terhadap perempuan adalah 1,01 menjadi 1,22 pada akhir resesi (1983). Peningkatan perbedaan upah terjadi karena penurunan dari rata-rata &#8220;human capital&#8221; perempuan relatif terhadap laki-laki. Hal ini disebabkan, pada masa resesi, perem­puan yang menjadi pekerja sekunder masuk dalam angkatan kerja sebagai respons berkurangnya pendapatan keluarga. Data menunjukan selama periode resesi TPAK perempuan meningkat dari 24,36<span>  </span>persen menjadi 27,01<span>  </span>persen, kemudian setelah peiode resesi menurun menjadi 25,22<span>  </span>persen.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Untuk negara-negara sedang berkembang, sejumlah studi juga menemukan bahwa rata-rata upah yang diterima perempuan cendrung lebih rendah dari laki-laki. Di India, ratio perbedaan upah perempuan dan laki-laki antara 60-80 persen (data tahun 1957). Demikian juga untuk tahun yang sama di Vietnam Selatan, upah pekerja perempuan 27<span>  </span>persen lebih rendah dari pekerja laki-laki (Boserup, 1984).<span>  </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;"> Fakta-fatkta yang ada menunjukka</span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">n bahwa perbedaan upah merupakan gejala yang meluas yang terjadi baik antar negara maupun antar bidang pekerjaan. Berkaitan dengan hal tersebut, menurut teori &#8220;human capital&#8221; dari aliran neo-klasik sebenarnya perbedaan pendapatan hanyalah karena perbedaan produktivitas, pendidikan, pengalaman kerja serta posisi. Namun demiki­an anggapan itu pada saat ini dinilai keliru. Beberapa penelitian empiris telah menguji dengan melakukan kon­trol terhadap variabel-variabel tersebut, ternyata masih terdapat perbedaan yang nyata antara pendapatan perem­puan dan laki-laki.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Yusuf dan Kurniawan dalam Iqbal (1983) pada peneli­tian yang dilakukan di Kawasan Industri Pulogadung menemukan bahwa perbedaan rata-rata pendapatan yang diterima pekerja perempuan dan laki-laki makin sedikit dengan makin tinggi tingkat pendidikan perempuan. Pada tingkat pendidikan SD, perbedaannya 98,3<span>  </span>persen kemud­ian menurun menjadi 45,7 persen pada tingkat pendidikan Akademi/Universitas.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Dengan menggunakan variabel kontrol pengalaman kerja mereka juga menemukan adanya perbedaan tingkat pendapatan laki-laki dan perempuan. Untuk masa kerja kurang dari 24 bulan, rata-rata pendapatan laki-laki Rp 84.583<span>  </span>sedangkan perempuan Rp 70.354. Selanjutnya untuk masa kerja lebih dari 24 bulan pendapatan laki-laki sebesar Rp 119.252/bulan dan perempuan Rp 82.778/bulan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Pada skala nasional, hal ini juga terlihat. Meski­pun terdapat kesamaan tingkat pendidikan, jam kerja dan lapangan kerja antara pekerja laki-laki dan perempuan, pekerja perempuan mempunyai rata-rata pendapatan dari upah perbulan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Pada tahun 1982 rata-rata upah perbulan pekerja perempuan sektor industri sebesar Rp 19.902, sedangkan laki-laki sebesar Rp 45.580 (BPS,1989). Dengan menggunakan data BPS, Notosusanto (1994) menemukan bahwa pada tingkat pendidikan SMTA pada tahun 1990 rata-rata upah yang diterima perempuan adalah Rp101.194/bulan dan laki-laki sebesar Rp 137.732/bulan. Pada tingkat pendidikan perguruan tinggi perempuan menerima upah rata-rata Rp 177.800/bulan sedangkan laki-laki Rp 260.227/bulan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Selanjutnya, penelitian<span>  </span>Rupetu (1993) menemukan, bahwa untuk masa kerja yang rendah, hampir tidak terda­pat perbedaan upah antara laki-laki dan perempuan. Namun demikian pada masa kerja yang relatif panjang laki-laki akan menerima upah yang lebih besar dari perempuan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Hafidz (1995) mencoba menghubungkan perbedaan upah ini pada berbagai jenjang pendidikan. Dengan menggunakan data tahun 1990, dia menemukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin kecil perbedaan upah antara pekerja laki-laki dan perempuan. Pada tingkat pendidikan terendah (SD atau tidak tamat SD) kesenjangan mencapai lebih dari 100<span>  </span>persen yaitu Rp 27.000/bulan untuk perempuan dan Rp 55.000/bulan untuk laki-laki. Pada tingkat pendidikan tamat perguruan tinggi perbedaannya hanya 46<span>  </span>persen .</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Dari hal tersebut terlihat bahwa, walaupun telah dikontrol dengan karakteristik individu yang berhubungan dengan pekerjaan, pendapatan perempuan ternyata lebih rendah dari pendapatan laki-laki. Dengan demikian dapat dikemukakan adanya diskriminasi dalam tingkat upah yang diberikan pengusaha terhadap pekerja laki-laki dan perempuan ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;"> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hardiani.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hardiani.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=36&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2008/08/17/diferensiasi-upah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Faktor-faktor yang mempengaruhi upah</title>
		<link>http://hardiani.wordpress.com/2008/08/17/upah/</link>
		<comments>http://hardiani.wordpress.com/2008/08/17/upah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Aug 2008 04:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hardiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[tenaga kerja]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[upah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardiani.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[  Menurut Nakamura, dkk (1979), ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi upah yang diterima pekerja, yaitu: 1) Karakteristik individu. 2) Karakteristik dari pasar tenaga kerja. Penelitian pada tingkat mikro, umumnya berfokus pada faktor karakteristik individu, sedangkan pada tingkat makro lebih memperhatikan hubungan karakteristik pasar kerja  terhadap tingkat upah. Penelitian yang dilakukan oleh Ehreinberg, dan Smith [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=27&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Menurut Nakamura, dkk (1979), ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi upah yang diterima pekerja, yaitu: 1) Karakteristik individu. 2) Karakteristik dari pasar tenaga kerja. Penelitian pada tingkat mikro, umumnya berfokus pada faktor karakteristik individu, sedangkan pada tingkat makro lebih memperhatikan hubungan karakteristik pasar kerja<span>  </span>terhadap tingkat upah.<span id="more-27"></span></span></span></div>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Penelitian yang dilakukan oleh Ehreinberg, dan Smith (1988 )<span>  </span>dengan bersumber pada data Biro Sensus Amerika tahun 1984 menemukan 2 hal, yaitu: 1) semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi tingkat upah. 2) Perbedaan dalam tingkat upah ini semakin besar pada pekerja-pekerja yang lebih tua. Hal ini disebabkan oleh kemampuan belajar pekerja yang berpendidikan lebih tinggi relatif lebih baik, sehingga pada masa kerja yang sama pengalaman bekerja yang lebih tinggi juga akan lebih baik.<span>  </span>Dengan demikian, secara nyata pengalaman kerja juga berpengaruh positif terhadap tingkat upah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Hotchkiss (1992) melakukan penelitian di Amerika Serikat pada tahun 1980, mengenai interaksi antara latihan kejuruan lanjutan dan<span>  </span>pelatihan yang berhubungan dengan pekerjaan, terhadap upah pekerjaan yang perta­ma kali diperoleh dalam dua tahun setelah selesai seko­lah. Temuan penelitiannya menunjukkan terdapat pengaruh yang kuat antara pelatihan yang berhubungan dengan pekerjaan<span>  </span>terhadap tingkat upah, baik laki-laki maupun perempuan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Penelitian faktor yang mempengaruhi upah juga telah dilakukan di beberapa daerah di Indonesia. Tarmizi (1991), dalam penelitiannya menemukan bahwa tingkat pendidikan formal dan masa kerja berpengaruh terhadap tingkat upah yang diterima. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan semakin lama masa kerja, maka semakin tinggi rata-rata upah yang diterima. Pada tingkat pen­didikan SD dengan masa kerja kurang dari tiga tahun, upah yang diterima sebesar Rp 59.600 sedangkan dengan masa kerja lebih tiga tahun sebesar Rp 69.700. Selanjut­nya pada tingkat pendidikan SMTA dengan masa kerja<span>  </span>kurang dari tiga tahun, rata-rata upah adalah Rp 70.700 sedangkan dengan masa kerja lebih tiga tahun mendapatkan upah Rp 72.300.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;">Rupetu (1993), telah melakukan penelitian pada industri Plywood di Maluku. Dari hasil penelitiannya menemukan<span>  </span>bahwa<span>  </span>umur dan masa kerja berpengaruh posi­tif terhadap upah yang diterima pekerja. Upah nomimal rata-rata pekerja dengan masa kerja kurang tiga tahun dan yang berumur dibawah 25 tahun sebesar Rp 60.500, sedangkan yang berumur diatas 25 tahun sebesar Rp 65.000. Selanjutnya upah nominal untuk yang bermasa kerja lebih tiga tahun dan yang berumur dibawah 25 tahun sebesar Rp 67.100, sedangkan yang berumur diatas 25 tahun sebesar Rp 72.200. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;"><span> </span>Dari hasil penelitian Wibisono dan Sukamdi (1995) pada industri pengolahan skala besar di Kecamatan Ungga­ran Kabupaten<span>   </span>Semarang<span>   </span>menemukan bahwa umur berpen­garuh positif terhadap upah pekerja perempuan. Alasan yang melatarbelakanginya adalah semakin tua umur, cende­rung mempunyai pengalaman yang banyak dalam proses kerja, semakin mampu beradaptasi<span>   </span>dengan<span>   </span>pekerjaan<span>   </span>dan semakin besar tunjangan masa kerja. Selanjutnya, faktor temuan lain yang mempengaruhi upah adalah adalah lama masa kerja. Terdapat<span>   </span>hubungan<span>   </span>positif antara upah dan lama kerja. Semakin lama masa kerja semakin tinggi upahnya. Faktor yang melatarbelakangi adalah lama kerja berkaitan dengan proses pelatihan sambil kerja, proses adaptasi terhadap proses kerja. Semakin lama bekerja, maka dimungkinkan semakin besar adaptasi dan pelatihan yang berkaitan dengan proses kerja. Pada gilirannya, hal itu akan mempengaruhi tingkat produkti­vitas. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:24pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Chelmsford-WP;"><span style="font-family:Tms Rmn;"> </span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hardiani.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hardiani.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hardiani.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hardiani.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hardiani.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hardiani.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hardiani.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hardiani.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hardiani.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hardiani.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hardiani.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hardiani.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hardiani.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hardiani.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hardiani.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hardiani.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hardiani.wordpress.com&amp;blog=4518373&amp;post=27&amp;subd=hardiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardiani.wordpress.com/2008/08/17/upah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4e055c8083ff2770297a4f8f0a4cfbd9?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hardiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
