17
Agu
08

Diferensiasi Upah Berdasarkan Gender

Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa terdapat perbedaan upah yang besar antara pekerja laki-laki dan perempuan, baik di negara maju maupun negara sedang berkembang. Perbedaan tersebut juga terlihat bila ditin­jau pada masing-masing jenis/lapangan pekerjaan. Di Amerika Serikat pada tahun 1984, rata-rata upah pekerja perempuan adalah 63  persen dari pekerja laki-laki (Ehrenberg dan Smith,1988 ). Walaupun lima tahun kemudian (1989) rata-rata pendapatan pekerja perempuan telah meningkat pesat, namun rata-rata pendapatannya masih 72  persen dari pendapatan laki-laki. Namun demikian terda­pat pola yang menarik dari perbedaan upah ini jika dikontrol dengan umur. Ditemukan bahwa perbedaan upah ini akan semakin besar dengan semakin tuanya umur. Pada pekerja usia muda (16-24 tahun), median upah perempuan adalah 90  persen terhadap upah laki-laki, sedangkan pada pekerja usia lebih tua perbedaan upah tersebut menjadi 77 persen.

Gindling,T.H.(1993), mencoba menguji perubahan upah dan perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perem­puan di Costa Rica selama krisis ekonomi awal tahun 1980 an. Temuannya menunjukan bahwa krisis ekonomi ter­nyata memiliki pengaruh yang relatif lebih besar terha­dap upah perempuan dibandingkan laki-laki. Pada awal resesi (1978 )  ratio upah laki-laki terhadap perempuan adalah 1,01 menjadi 1,22 pada akhir resesi (1983). Peningkatan perbedaan upah terjadi karena penurunan dari rata-rata “human capital” perempuan relatif terhadap laki-laki. Hal ini disebabkan, pada masa resesi, perem­puan yang menjadi pekerja sekunder masuk dalam angkatan kerja sebagai respons berkurangnya pendapatan keluarga. Data menunjukan selama periode resesi TPAK perempuan meningkat dari 24,36  persen menjadi 27,01  persen, kemudian setelah peiode resesi menurun menjadi 25,22  persen.

Untuk negara-negara sedang berkembang, sejumlah studi juga menemukan bahwa rata-rata upah yang diterima perempuan cendrung lebih rendah dari laki-laki. Di India, ratio perbedaan upah perempuan dan laki-laki antara 60-80 persen (data tahun 1957). Demikian juga untuk tahun yang sama di Vietnam Selatan, upah pekerja perempuan 27  persen lebih rendah dari pekerja laki-laki (Boserup, 1984). 

 Fakta-fatkta yang ada menunjukkan bahwa perbedaan upah merupakan gejala yang meluas yang terjadi baik antar negara maupun antar bidang pekerjaan. Berkaitan dengan hal tersebut, menurut teori “human capital” dari aliran neo-klasik sebenarnya perbedaan pendapatan hanyalah karena perbedaan produktivitas, pendidikan, pengalaman kerja serta posisi. Namun demiki­an anggapan itu pada saat ini dinilai keliru. Beberapa penelitian empiris telah menguji dengan melakukan kon­trol terhadap variabel-variabel tersebut, ternyata masih terdapat perbedaan yang nyata antara pendapatan perem­puan dan laki-laki.

Yusuf dan Kurniawan dalam Iqbal (1983) pada peneli­tian yang dilakukan di Kawasan Industri Pulogadung menemukan bahwa perbedaan rata-rata pendapatan yang diterima pekerja perempuan dan laki-laki makin sedikit dengan makin tinggi tingkat pendidikan perempuan. Pada tingkat pendidikan SD, perbedaannya 98,3  persen kemud­ian menurun menjadi 45,7 persen pada tingkat pendidikan Akademi/Universitas.

Dengan menggunakan variabel kontrol pengalaman kerja mereka juga menemukan adanya perbedaan tingkat pendapatan laki-laki dan perempuan. Untuk masa kerja kurang dari 24 bulan, rata-rata pendapatan laki-laki Rp 84.583  sedangkan perempuan Rp 70.354. Selanjutnya untuk masa kerja lebih dari 24 bulan pendapatan laki-laki sebesar Rp 119.252/bulan dan perempuan Rp 82.778/bulan.

Pada skala nasional, hal ini juga terlihat. Meski­pun terdapat kesamaan tingkat pendidikan, jam kerja dan lapangan kerja antara pekerja laki-laki dan perempuan, pekerja perempuan mempunyai rata-rata pendapatan dari upah perbulan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Pada tahun 1982 rata-rata upah perbulan pekerja perempuan sektor industri sebesar Rp 19.902, sedangkan laki-laki sebesar Rp 45.580 (BPS,1989). Dengan menggunakan data BPS, Notosusanto (1994) menemukan bahwa pada tingkat pendidikan SMTA pada tahun 1990 rata-rata upah yang diterima perempuan adalah Rp101.194/bulan dan laki-laki sebesar Rp 137.732/bulan. Pada tingkat pendidikan perguruan tinggi perempuan menerima upah rata-rata Rp 177.800/bulan sedangkan laki-laki Rp 260.227/bulan.

Selanjutnya, penelitian  Rupetu (1993) menemukan, bahwa untuk masa kerja yang rendah, hampir tidak terda­pat perbedaan upah antara laki-laki dan perempuan. Namun demikian pada masa kerja yang relatif panjang laki-laki akan menerima upah yang lebih besar dari perempuan.

Hafidz (1995) mencoba menghubungkan perbedaan upah ini pada berbagai jenjang pendidikan. Dengan menggunakan data tahun 1990, dia menemukan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan semakin kecil perbedaan upah antara pekerja laki-laki dan perempuan. Pada tingkat pendidikan terendah (SD atau tidak tamat SD) kesenjangan mencapai lebih dari 100  persen yaitu Rp 27.000/bulan untuk perempuan dan Rp 55.000/bulan untuk laki-laki. Pada tingkat pendidikan tamat perguruan tinggi perbedaannya hanya 46  persen .

Dari hal tersebut terlihat bahwa, walaupun telah dikontrol dengan karakteristik individu yang berhubungan dengan pekerjaan, pendapatan perempuan ternyata lebih rendah dari pendapatan laki-laki. Dengan demikian dapat dikemukakan adanya diskriminasi dalam tingkat upah yang diberikan pengusaha terhadap pekerja laki-laki dan perempuan ini.

 


0 Responses to “Diferensiasi Upah Berdasarkan Gender”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Sejak 15 Agust 2008

Pendataan Alumni

Bagi alumni Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (IESP) Fakultas Ekonomi Univ. Jambi, untuk kepentingan pendataan alumni dan pengembangan Jurusan, mohon kesediaannya untuk mengisi kuesioner berikut. Download kuesionernya Disini

(Catatan: Bagi yang sudah mengisi formulir pada blog jurusan, mohon untuk tetap mengisi kembali kuesioner ini, karena ada tambahan informasi yang dibutuhkan). Terima kasih

Program ORDI

Dapatkan Program ORDI untuk transformasi data ordinal ke interval. Klik disini

Jumlah Klik

  • 26,352 kali

%d blogger menyukai ini: